Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner
banner9
banner7

Digital Online

Statistik

Anggota : 48
Konten : 269
Jumlah Kunjungan Konten : 228663

Kalender Kegiatan

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday49
mod_vvisit_counterYesterday297
mod_vvisit_counterThis week583
mod_vvisit_counterThis month1702
mod_vvisit_counterAll1709
Kajian Teknologi Model PTT Tanaman Tomat Dan Cabai Dataran rendah Dalam Peningkatan Hasil Di Kawasan Sentra Produksi Hortikultura Di Maluku” PDF Cetak E-mail
Oleh MP. Sirappa,dkk   
Pada umumnya sistem budidaya cabai dan tomat di sentra-sentra produksi cabai dan tomat di Maluku sebagian besar masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi, penggunaan pupuk yang masih terbatas dan belum menggunakan mulsa plastik.

Perbaikan kultur teknik budidaya cabai dan tomat secara intensif untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul yang bermutu tinggi, pengaturan jarak tanam dan populasi tanaman yang tepat, penerapan mulsa plastik hitam perak (MPHP), pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun. Kajian teknologi model PTT tanaman tomat dan cabai dataran rendah dalam peningkatan hasil di kawasan sentra produksi hortikultura di Maluku perlu dilakukan. Tujuan jangka panjang dari pada kegiatan ini adalah mendapatkan satu model PTT tanaman tomat dan cabai spesifik lokasi untuk dataran rendah dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Sedangkan tujuan jangka pendek adalah : (1) mendapatkan 2-3 varietas unggul baru/hibrida tomat dan cabai adaptif pada dataran rendah di Maluku, (2) mendapatkan satu takaran pemupukan pada tomat dan cabai yang efisien, dan (3) mendapatkan satu teknologi pengendalian hama dan penyakit utama tomat dan cabai yang efektif dengan pestisida biorasional.

Hasil yang diharapkan dari kajian ini adalah diperoleh satu model PTT tanaman tomat dan cabai spesifik lokasi untuk dataran rendah dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, dan tiga buah jurnal nasional akreditasi.

Manfaat dan dampak dari kajian ini adalah (1) meningkatnya produktivitas dan pendapatan petani tomat dan cabai dengan menerapkan teknologi model PTT tanaman tomat dan cabai, (2) meluasnya penggunaan varietas unggul adaptif, penggunaan pupuk organik dan anorganik secara berimbang, dan (3) penggunaan pestisida biorasional di kalangan petani hortikultura.

Kajian Teknologi Model PTT Tanaman Tomat Dan Cabai Dataran Rendah Dalam Peningkatan Hasil Di Kawasan Sentra Produksi Hortikultura Di Maluku, terdiri atas tiga kegiatan yaitu: (1) Kajian Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Tomat dan Cabai Dataran Rendah bertujuan mendapatkan 2-3 varietas unggul baru/hibrida tomat dan cabai adaptif pada dataran rendah di Maluku, , (2) Kajian Penggunaan Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Peningkatan Hasil Tomat yang Efisien, bertujuan mendapatkan satu takaran pemupukan pada tomat dan cabai yang efisien, dan (3) Kajian Penggunaan Pestisida Biorasional terhadap Serangan Hama dan Penyakit Utama serta Produktivitas Tomat dan Cabai, bertujuan mendapatkan satu teknologi pengendalian hama dan penyakit utama tomat dan cabai yang efektif dengan pestisida biorasional.

Penelitian dilaksanakan di Desa Waihatu Kecamatan Kairatu Barat, yang merupakan sentra produksi sayur-sayuran Kabupaten Seram Bagian Barat. Kegiatan ini merupakan percobaan lapang, yang dilakukan di lahan petani dengan melibatkan petani secara partisipatif. Untuk mendapatkan informasi budidaya tomat dan cabai di tingkat petani dilakukan PRA dengan melibatkan beberapa petani dan kunci informasi. Data dan informasi yang diperoleh digunakan sebagai data dasar dalam pelaksanaan kegiatan kajian. Selanjutnya dilakukan pengkajian di lokasi tersebut berupa demplot dengan pengawalan peneliti. Hasil kajian yang diperoleh pada tahun pertama dirakit sebagai suatu model komponen teknologi PTT tomat dan cabai dataran rendah untuk pengembangan pada tahun berikutnya di beberapa lokasi sentra produksi.

Kegiatan-1, Kajian Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Tomat dan Cabai Dataran Rendah di Desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga Ulangan. Tujuh varietas tomat (T1 = Permata; T2 = Lentana, T3 = Tombatu; T4 = Oval; T5 = Ratna; T6 = Mutiara; dan T7 = Lokal) dan delapan varietas Cabai (C1 =Tanamo; C2 = Bobot; C3 = Dewata; C4 = Wibawa; C5 = Laris; C6 = Lembang1; C7 =Tanjung2, dan C8 =Lokal ) ditempatkan sebagai perlakuan.

Pengamatan tanaman tomat dan cabai meliputi: Jumlah tanaman tumbuh, tinggi tanaman, umur berbunga > 50%, umur berbuah > 50%, umur panen, frekuensi panen, bentuk buah, warna buah muda, warna buah masak, jumlah buah/tanaman, bobot buah/tanaman, bobot 100 buah, hasil (t/ha), dan intensitas serangan dan ketahanan hama penyakit. Data lainnya yang diperlukan adalah preferensi konsumen/petani terhadap varietas dan data curah hujan selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan-2, Kajian Penggunaan Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Peningkatan Hasil Tomat dan Cabai Dataran Rendah di Desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat Percobaan disusun dalam Rancangan Faktorial RAK dengan dua faktor, yaitu faktor pertama adalah pupuk organik (PO) terdiri atas: (1) PO-1: Pupuk Cair Natural Plus, (2) PO-2: 10 t/ha Pupuk Kandang, dan (3) PO-3: 2 t/ha Petro Organik, sedangkan faktor kedua adalah pupuk anorganik (PA), yaitu (1) PA-1: 150 kg urea, 400 kg ZA, 200 kg SP-36, dan 100 kg KCl, (2) PA-2: 500 kg NPK Pelangi, 100 kg urea/ha, (3) PA-3: Setengah dosis PA-1, dan (4) PA-4: Setengah dosis PA-2. Untuk kajian tomat tidak menggunakan pupuk ZA pada perlakuan faktor kedua. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 36 unit perlakuan, masing-masing untuk tanaman tomat dan cabai.

Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah buah/tanaman, bobot buah, frekuensi panen, serangan hama/penyakit, hasil/ha, dan data pendukung lainnya.

Kegiatan-3, Kajian Penggunaan Pestisida Biorasional terhadap Serangan Hama dan Penyakit Utama serta Produktivitas Tomat dan Cabai di desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok, terdiri atas enam perlakuan dengan tiga kali ulangan, sehingga terdapat 18 unit perlakuan masing-masing untuk tomat dan cabai. Perlakuan yang dikaji terdiri atas : A = Ekstrak Alpina galaga (Lengkuas/Laos), satu berat bahan (bb). B = Ekstrak kasar Andropogon nardus (Serai wangi), satu bb. C = Ekstrak kasar Azadirachta indica (Nimba), satu bb. D = Ekstrak kasar Cucurbita moschata (Kalabasa). satu bb E = Pestisida sintetik Deltametrin 2,5 EC 0,2% F = Kontrol tanpa aplikasi pestisida.

Peubah yang diamati adalah : populasi hama utama cabai dan tomat, intensitas kerusakan tanaman akibat serangan hama penyakit, bobot hasil panen cabai dan tomat (baik yang sehat dan sakit). Intensitas kerusakan OPT dikuantifikasi berdasarkan sistem perangkaan dihitung dengan rumus :

∑(n x v) I = --------------------- x 100% N x V

Dimana : I = Intensitas kerusakan; n = jumlah tanaman dalam setiap kategori serangan; N = jumlah tanaman yang diamati; v = nilai skala tiap kategori serangan; V = nilai skala serangan tertinggi. Nilai skala dari tiap kategori serangan adalah: 0 = tidak ada kerusakan; 1 = kerusakan > 0 - ≤ 20%; 3 = kerusakan > 20 - ≤40% 5 = kerusakan > 40 - ≤ 65%; 7 = kerusakan > 65 - ≤80%; dan 9 = kerusakan > 80 - ≤100%.

Analisis data untuk tiga kegiatan tersebut dengan metode statistik, terdiri atas analisis sidik ragam (Uji-F) untuk mengetahui pengaruh perlakuan dan Duncan Multiple Range Test=DMRT (Uji-t) untuk melihat pengaruh antar perlakuan yang diuji dengan menggunakan prosedur Gomez dan Gomez (1995).

Pengamatan tinggi tanaman telah dilakukan terhadap Kegiatan-1 (Kajian Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Tomat dan Cabai Dataran Rendah di Desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat) dan kegiatan-3 (Kajian Penggunaan Pestisida Biorasional terhadap Serangan Hama dan Penyakit Utama serta Produktivitas Tomat dan Cabai di Desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat). Hal ini dilakukan karena tanaman Tomat dan Cabai telah memasuki masa panen, sedangkan kegiatan-2 (Kajian Penggunaan Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Peningkatan Hasil Tomat dan Cabai Dataran Rendah di Desa Waihatu, Kabupaten Seram Bagian Barat) belum diamati karena masih berada pada fase pertumbuhan (belum berbunga).

Hasil pengkajian kegiatan-1 menunjukkan bahwa varietas tomat yang memiliki tinggi tanaman tertinggi (90,80 cm) adalah T1=Permata menyusul T4 = Oval (84,07 cm); T3-Tombatu (82,93 cm); dan T2=Letana (81,27 cm), sedangkan varietas Lokal memiliki tinggi tanaman terrendah (64,13 cm). Tanaman cabai yang memiliki tinggi tanaman tertinggi (74,53 cm) adalah varietas C5 = Laris, menyusul varietas C2=Bobot (70,47 cm), sedangkan varietas Lokal (C8) juga memiliki tinggi tanamn tertinggi (72,00 cm).

Hasil pengkajian kegiatan-3 menunjukkan bahwa perlakuan B (Ekstrak kasar Andropogon nardus (Serai wangi), 1,0 bb) memberikan tinggi tanamn tomat tertinggi (71,27 cm) menyusul perlakuan E (Pestisida sintetik Deltametrin 2,5 EC 0,2%), 70,18 cm, sedangkan tinggi tanaman terendah (62,53 cm) terdapat pada perlakuan D (ekstrak kasar Cucurbita moschata (Kalabasa). 1,0 bb).


Dokumentasi Kegiatan




Gambar 1. Varietas Tomat




Gambar 2. Varietas Cabai

LAST_UPDATED2
 

Helena Tarumaselly

Joomla Templates by JoomlaVision.com