Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner7
banner
banner9

Digital Online

Statistik

Anggota : 48
Konten : 274
Jumlah Kunjungan Konten : 231413

Kalender Kegiatan

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday139
mod_vvisit_counterYesterday182
mod_vvisit_counterThis week321
mod_vvisit_counterThis month4003
mod_vvisit_counterAll4010
Ketahanan Pangan Melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) PDF Cetak E-mail
Oleh Rosniyati Suwarda   
Jumat, 30 Maret 2012 00:00
Peningkatan ketahan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan karena pangan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Ketahanan pangan (food security) telah menjadi isu global selama dua dekade ini termasuk di Indonesia. Ketahanan pangan diartikan sebagai tersediannya pangan dalam jumlah yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman dikonsumsi oleh setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu. Berdasar definisi tersebut, terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga merupakan tujuan sekaligus sebagai sasaran dari ketahanan pangan di Indonesia. Oleh karenanya pemantapan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemantapan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Perwujudan ketahanan pangan tingkat rumah tangga dapat dilakukan melalui diversifikasi pangan. Kesadaran tentang pentingnya upaya diversifikasi pangan telah lama dilaksanakan di Indonesia, namun demikian hasil yang dicapai belum seperti yang diharapkan. Kebijakan diversifikasi pangan, diawali dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1974 tentang Upaya Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR), dengan menggalakkan produksi Telo , Kacang dan Jagung yang dikenal dengan Tekad, sampai yang terakhir adanya Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Diversifikasi pangan sangat penting perannya dalam mewujudkan ketahanan pangan karena kualitas konsumsi pangan dilihat dari indikator skor Pola Pangan Harapan (PPH) nasional masih rendah. Pada tahun 2009 baru mencapai 75,7 dan harus ditingkatkan terus untuk mencapai sasaran tahun 2014 PPH sebesar 95. Agar mampu menjaga keberlanjutannya, maka perlu dilakukan pembaruan rancangan pemanfaatan pekarangan dengan memperhatikan berbagai program yang telah berjalan seperti Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), dan Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP).

Implikasi PERPRES No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal adalah diperlukannya aktualisasi kembali optimalisasi (intensifikasi) lahan perkarangan untuk menghasilkan beraneka ragam bahan pangan, baik bahan pangan sumber karbohidrat, protein maupun vitamin dan mineral, di tingkat Rumah Tangga. Berkaitan dengan hal tersebut BADAN LITBANG PERTANIAN Kementerian Pertanian sejak awal Pebruari 2011 telah menginisiasi contoh model pengembangan kemandirian pangan setingkat wilayah desa/dusun dan rumah tangga pendukungnya berbasis optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lokal lahan pekarangan.

Model percontohan tersebut divisualisasikan dalam bentuk kawasan yang dibangun dari unit – unit rumah tangga yang menerapkan prinsip pemanfaatan pekarangan secara optimal ramah lingkungan dan ditopang pula oleh maksimalisasi produktivitas lahan olah dan non-olah pertanian di dalam kawasan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat berbasis partisipasi masyarakat. Konsep yang divisualisasikan dalam unit percontohan ini disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Rumah pangan merupakan salah satu konsep pemanfaatan lahan pekarangan baik di pedesaan maupun perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal. Dalam program tersebut dikembangkan sejumlah jenis tanaman pangan produktif dan ternak. Untuk tanaman, antara lain jenis sayur, buah, cabai maupun toga. Sedangkan ternak, dapat berupa budidaya lele, ayam, dan kambing. Namun pengembangan itu masih tergantung luasan lahan yang tersedia. Artinya, penerapannya dilakukan dengan sistem /strata. Luasan lahan dikelompokan menjadi 3 strata: (Starata 1) rumah tangga dengan pekarangan sempit (<100 m2), (Strata 2) rumah tangga dengan pekarang sedang (200-300 m2), dan (Strata 3) rumah tangga dengan pekarangan luas (>300 m2). Semakin luas lahan, ragam tanaman dan ternak yang dibudidayakan juga semakin banyak. upaya semacam itu sudah pernah dilakukan masyarakat. Hanya saja, seiring perkembangan waktu pengembangan tanaman pangan di pekarangan mulai ditinggalkan.

Untuk wilayah perkotaan dapat diterapkan system tanam secara vertikultur (budidaya secara vertikal) dan pot plant (tanam dalam pot). Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertical atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem budidaya pertanian secara vertical atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaandan lahan terbatas. Sehingga, faktor keterbatasan lahan akibat padatnya pemukiman bukan lagi menjadi alasan.



Untuk wilayah pedesaan dapat diterapkan sytem tanam secara bedengan dengan integrasi ternak dan ditambahkan dengan kolam ikan.




Beberapa faktor untuk mencapai keberhasilan dan keberlanjutan secara lestari dari pengembangan model KRPL ini adalah, (1) para petugas lapangan setempat dan ketua kelompok sejak awal harus dilibatkan secara aktif mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Diharapkan keterlibatan ini akan memudahkan proses keberlanjutan dan kemandiriannya. (2) ketersediaan benih/bibit, penanganan pascapanen dan pengolahan, serta pasar bagi produk yang dihasilkan. Untuk itu, diperlukan penumbuhan dan penguatan kelembagaan Kebun Benih/Bibit, pengolahan hasil, dan pemasaran. Selanjutnya, untuk mewujudkan kemandirian kawasan, perlu dilakukan pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman-ternak. (3) untuk menuju Pola Pangan Harapan, diperlukan model diversifikasi yang dapat memenuhi kebutuhan kelompok pangan (padi-padian, aneka umbi, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, kacangkacangan, gula, sayur dan buah, dan lainnya) bagi keluarga. Model ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pendapatan dan kesejahteraan keluarga. (4) komitmen dan dukugan serta fasilitasi dari pengambil kebijakan utamanya Pemerintah Daerah untuk mendorong implementasi model inovasi teknologi seperti model KRPL tersebut dalam gerakan secara masif di wilayah kerjanya untuk dilaksanakan secara konsisten merupakan hal penting yang menentukan cepatnya adopsi dan keberlanjutan model KRPL tersebut.

Apabila beberapa factor tersebut dapat diwujudkan, maka akses rumah tangga terhadap pangan dapat ditingkatkan melalui diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan berbasis sumberdaya lokal. Melalui gerakan secara massif di semua wilayah /kawasan tanah air dengan pengembangan komoditas sesuai potensi spesifik lokal, pengembangan model KRPL merupakan salah satu solusi untuk mewujudkan dan memantapkan ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia.
LAST_UPDATED2
 

Helena Tarumaselly

Joomla Templates by JoomlaVision.com