home website.jpg

Pemberdayaan Kelompok Tani Sebagai Penangkar Benih Padi Di Kabupaten Buru

BPS Maluku (2007) melaporkan bahwa luas panen padi sawah di Propinsi Maluku pada tahun 2006 seluas 12.153 ha dengan total produksi sebesar 46.651 ton dan produktivitas sebesar 3,8 ton/ha, luas areal panen tersebut tersebar di tiga Kabupaten yaitu Maluku Tengah seluas 2.485 ha dengan total produksi 9.712 ton (produktivitas 3,9 ton/ha), Buru seluas 8.292 ha dengan total produksi 31.683 ton (produktivitas 3,8 ton/ha) dan Seram Bagian Barat 1.376 ha dengan total produksi 5.256 ton (produktivitas 3,8 ton/ha).

Jika dibandingkan dengan potensi hasil padi varietas unggul baru seperti Gilirang sebesar 6 – 7,3 ton/ha, Maro sebesar 8,85 ton/ha, Cigeulis sebesar 5-8 ton/ha, fatmawati sebesar 6-9 ton/ha dan Mekongga sebesar 4 - 6 ton/ha (Puslitbangtan, 2004), produktivitas padi sawah di Provinsi maluku masih tergolong rendah. Rendahnya produktivitas ini diduga karena tingkat penerapan teknologi baru oleh petani masih rendah, yang ditandai oleh rendahnya tingkat penggunaan input produksi seperti bibit unggul, pupuk dan pestisida.

Benih sering menjadi masalah utama dalam usahatani padi sawah, yang disebabkan antara lain terbatasnya ketersediaan benih sumber, belum adanya produsen atau penangkar benih secara lokal, tingginya resiko dan minimalnya keuntungan usaha perbenihan dan kecenderungan petani menggunakan benih seadanya.

Dalam kaitan dengan penanggulangan permasalahan yang disebut diatas, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah melakukan pembinaan kelompok-kelompok tani sebagai penangkar atau produsen benih yang ditujukan pada tahap awal adalah memenuhi kebutuhan benih padi ditingkat desa setempat, sedangkan pada tahap yang lebih lanjut dimana kelompok tani sebagai produsen benih sudah berkembang dan melibatkan kelompok-kelompok tani yang lain (dalam wadah Gapoktan), maka wilayah pemasaran benih akan mencakup desa atau kecamatan lain.

Pengembangan dan pembinaan kelompok tani sebagai penangkar atau produsen benih juga dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian mereka yang tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani yang bersangkutan.

Pengkajian dilaksanakan di desa waelo, kecamatan Wayapo, kabupaten
Buru pada MK1 (Mei – Agustus). Pengkajian ini bersifat partisipatif yang melibatkan 1 Kelompok tani sebagai pioneer kelompok penangkar. Petani yang terlibat pada kegiatan ini harus bersedia memenuhi persyaratan dalam produksi benih bermutu mulai dari persiapan lahan sampai dengan penanganan pasca panen benih (serttifikasi lapang dan hasil).

Inovasi teknologi produksi benih bermutu yang di introduksikan ke petani meliputi teknik budidaya tanaman dengan pendekatan PTT dan teknik pengolahan serta prosesing benih berdasarkan pedoman umum produksi benih sumber padi.

Data yang dikumpulkan dalam kegiatan ini meliputi : 1) Analisis tanah (menggunakan PUTS) untuk menentukan rekomendasi pemupukan, 2) data Agronomi/komponen hasil dan produktivitas masing masing varietas, 3) Biaya dan tingkat harga dari tiap input dan hasil, 4) Pendapatan petani kooperator dan non kooperator 3) data uji laboratorium benih yang meliputi tingkat kemurnian, daya tumbuh dan kadar air, 4) data tingkat penyebaran benih hasil penangkaran kelompok.

Berdasarkan hasil identifikasi oleh Penyuluh Lapangan (PPL) terhadap kelompok tani yang ada di desa Waelo maka disepakati 1 kelompok tani yang dinilai cukup bagus tingkat partisipasi dan responsibilitas anggotanya, yaitu kelompok tani “Karya Mukti A” untuk menjadi penangkar benih. Dari hasil diskusi/pertemuan dengan kelompok tani Karya Mukti A, pada musim tanam 1 (MT 1) tahun 2009 terdapat 10 orang petani yang bersedia menjadi petani kooperator kegiatan penangkaran benih. VUB yang ditanam yaitu Sintanur, Cibogo, Conde, Cigeulis, Waeapo Buru, INPARI-1 dan INPARI 6 JETE dengan pendekatan PTT. Kelas benih yang digunakan benih dasar atau foundation seed (FS).

Untuk melihat tingkat kelayakan usahatani yang dilakukan oleh petani kooperator dan non kooperator dilakukan penghitungan analisis imbangan biaya dan pendapatan. Hasil analisis finansial petani non kooperator diperoleh hasil R/C rasio atas biaya total sebesar 1,17 . Indeks R/C rasio tersebut menunjukkan bahwa secara finansial usaha tani padi sawah dengan teknologi petani masih menguntungkan (layak secara finansial) meskipun dengan tingkat keuntungan yang kecil yaitu 15 persen dari total biaya yang dikeluarkan. Namun jika opportunity cost dari lahan tidak diperhitungkan sebagai salah satu komponen biaya karena sebagian besar petani di desa Waelo mengusahakan lahan sendiri, maka tingkat keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi, hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C atas biaya tunai sebesar 1,46, artinya tingkat keuntungan 46 % dari total biaya yang dikeluarkan.

Hasil kajian pada lahan sawah milik petani kooperator dengan introduksi 7 varietas unggul baru padi sawah diperoleh produksi berkisar antara 3,88 ton/ha sampai 7,51 ton/ha. Produksi tertinggi dicapai oleh varietas Conde yaitu 7,5 ton/ha GKG, kemudian berturut turut varietas Waeapo buru 6,7 ton/ha GKG, INPARI 6 JETE 6,2 ton/ha GKG, INPARI 1 5,2 ton/ha GKG, Cibogo 5,2 ton/ha GKG, Sintanur 5,1 ton/ha GKG dan Cigeulis 4 ton/ha GKG. Bila dilihat dari tingkat produksinya yang cukup tinggi menunjukkan bahwa semua varietas tersebut sangat adaptip untuk dataran Wayapo Buru.

Hasil analisis diperoleh nilai R/C atas biaya total sebesar 1,79 artinya dari setiap Rp 100,0 biaya input produksi petani kooperator mampu memberikan imbalan penerimaan Rp 179, sedangkan nilai R/C atas biaya tunai yang diperoleh sebesar 2,03 yang berarti kalau petani tidak memperhitungkan opportunity cost dari lahan sebagai salah satu dari komponen biaya maka tingkat keuntungan yang diperoleh sebesar 100% dari total biaya tunai yang dikeluarkan. Dengan asumsi petani menjual 50 persen dari hasil panennya dalam bentuk benih maka terdapat biaya tambahan yang dikeluarkan oleh penangkar untuk prosesing benih sampai siap dipasarkan yaitu mencapai Rp 178/kg calon benih, namun dengan harga jual benih Rp 3500/kg diperoleh tingkat keuntungan sebesar 103% (Rp. 8.757.000) dari total input yang dikeluarkan atau R/C sebesar 2,03.

Berdasarkan indeks MBCR menunjukkan bahwa perubahan teknologi dari pola petani ke pola introduksi dan produksi benih layak sekali untuk dilakukan ( MBCR = 2.70). Penggantian teknologi pola petani sesuai pola introduksi dan produksi benih mampu memberikan total tambahan penerimaan 2,70 kali dari total tambahan investasi tunai yang dikeluarkan.

Benih hasil penangkaran kelompok tani Karya Mukti A pada MK1 (Mei – Agustus) telah tersebar pada tingkat desa setempat dan sebagian telah keluar desa Waelo untuk kegiatan SL-PTT T.A. 2009. Luas areal tanam yang menggunakan benih produksi kelompok tani Karya Mukti A di dataran Wayapo telah mencapai
269 ha yang tersebar di enam desa yaitu Waelo 149 ha, Waegeren 16 ha, Waitina 15 ha, Balai Benih Utama (BBU) desa Waenetat 22 ha, Savana Jaya 57 ha dan Wanakarta 10 ha.

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner7
banner
banner9

Digital Online

Statistik

Anggota : 45
Konten : 265
Jumlah Kunjungan Konten : 215898

Helena Tarumaselly