home website.jpg

Sosialisasi, Persiapan Lahan dan Persemaian Pada Kegiatan SL-PTT Kabupaten Maluku Kecamatan Seram Utara Desa Kobisonta dan Samal

Guna mempercepat adopsi teknologi Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah diperlukan suatu terobosan teknologi secara masal melalui penerapan teknologi secara terfokus, sistematis, sinergi dan terintegrasi baik dari segi pembinaan maupun pembiayaannya, yaitu dengan penerapan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT). Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian No. 18/Kpts/KP.340/I/01/2012, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku diberi tugas untuk melakukan Pengawalan/Pendampingan SL-PTT padi Sawah dan Jagung. Bentuk pendampingan SL-PTT tersebut dibagi menjadi 10 bagian yaitu : 1. Menyediakan rekomendasi PTT spesifik lokasi; 2. Merekomendasikan penggunaan VUB spesifik lokasi; 3. Menyediakan kalender dan pola tanam; 4. Melaksanakan peragaan varietas; 5. Menjadi narasumber teknologi pada pelatihan PL-2; 6. Menyediakan publikasi dan menyampaikan teknologi tepat guna sebagai bahan materi penyuluhan; 7. Memonitor perkembangan OPT bersama dengan instansi terkait di daerah; 8. Melakukan supervisi penerapan teknologi; 9. Memberikan saran pemecahan masalah pengamanan produksi; 10. Menyampaikan laporan hasil pengawalan/pendampingan SL-PTT kepada BBP2TP

Pada tanggal 19 Maret 2012, Tim Kerja Pendampingan SL-PTT padi sawah di BPTP Maluku yang dikoordinir oleh Maryam Nurdin, SP, telah melakukan Sosialisasi, persiapan lahan dan persemaian di Kabupaten Maluku Tengah. Sosialisasi dihadiri oleh PPL, Ketua Kelompok Tani, Gapoktan dan Petani Kooperator uji adaptasi SL-PTT padi sawah. Dukungan kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Maluku atas kegiatan SL-PTT di akan laksanakan di dua desa di Kec. Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah diantaranya desa Kobisonta dan Wailoping 2, menetapkan empat petani kooperator di dua desa untuk display 5 (lima) varietas Unggul Baru, yakni pak badri dan pak Siswohartojo di desa Kobisonta dan pak Rianto dan pak Yaqub di desa Wailoping 2, Penyerahan benih VUB sebanyak 25 kg, kepada keempat petani Display VUB. Varietas padi yang diserahkan adalah varietas inpari 14 (BS), inpari 15 (BS), inpari 16 (FS), inpari 20 (BS) dan ciherang (FS), Penyerahan saprodi untuk kebutuhan per hektar, dan sebagai narasumbernya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku.

Hasil sosialisasi dengan petani antar lain: a. Diharapkan agar menanam padi VUB yang tahan hama dan penyakit;  b. Kami menyarankan agar VUB padi yang dikembangkan sekarang agar dijadikan benih untuk musim tanam berikutnya; c. Diharapkan agar petani tidak membakar jerami untuk mempertahankan kesuburan tanah. d. Kami juga menganjurkan agar petani mengairi sawahnya secara berselang seling terutama pada pertumbuhan vegetatif.  
 

Peran Penyuluhan Pertanian Dalam Merubah Perilaku Petani

Untuk membangun pertanian dibutuhkan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Tersediannya SDM berkualitas merupakan modal utama bagi daerah untuk menjadi pelaku (actor), penggerak pembangunan di daerah. Karena itu, untuk membangun pertanian, kita harus membangun sumberdaya manusia yang handal. Semberdaya manusia yang perlu dibangun diantarannya adalah SDM masyarakat pertanian (petani,nelayan, pengusaha pertanian dan pedang pertanian), agar kemampuan dan kompetensi kerja masyarakat pertanian dapat meningkat, karena merekalah yang langsung melaksanakan segala kegiatan usaha pertanian di lahan usahanya. Hal ini hanya dapat dibangun melalui proses belajar dan mengajar dengan mengembangkan system pendidikan non formal diluar sekolah secara efektif dan efisien di antaranya adalah melalui penyuluhan pertanian, masyarakat tani dibekali dengan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengenalan paket teknologi dan inovasi baru di bidang pertanian dengan sapta usahanya, penanaman nilai-nilai atau prinsip agribisnis, mengkreasi sumberdaya manusia dengan konsep dasar filosofi rajin, kooperatif, inovatif, kreatif dan sebagainya. Yang lebih penting lagi adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat tani agar mareka tahu dan mau menerapkan informasi anjuran yang dibawa dan disampaikan oleh penyuluh pertanian.

Tujuan penyuluhan pertanian adalah untuk menghasilkan sumberdaya manusia pelaku pembangunan pertanian yang berkompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, bertani lebih baik (better farming), berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera (better living) dan lingkungan lebih sehat. Penyuluhan pertanian dituntut agar mampu menggerakkan masyarakat, memberdayakan petani-nelayan, pengusaha pertanian dan pedagang pertanian, serta pendampingan petani untuk : 1. Membantu menganalisis situasi-situasi yang sedang mereka hadapi dan melakukan perkiraan ke depan; 2. membantu mereka menemukan masalah; 3. membantu mereka memperoleh pengetahuan informasi guna memecahkan masalah; 4. membantu mereka mengambil keputusan; dan 5. membantu mereka menghitung besarnya resiko atas keputusan yang diambilnya. Keberhasilan penyuluhan pertanian dapat dilihat dengan indicator banyaknya petani, pengusaha pertanian yang mampu mengelola dan menggerakkan usahanya secara mandiri, ketahanan pangan yang tangguh, tumbuhnya usaha pertanian skala rumah tangga sampai menengah berbasis komoditi unggulan di desa.

Selanjutnya usaha tersebut diharapkan dapat berkembang mencapai skala ekonomis. Semua itu berkorelasi pada keberhasilan perbaikan ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, yang akan bermuara pada peningkatan pendapatan dearah.

Arah pembangunan kedepan akan menuju pada industrialisasi di bidang pertanian melalui pengembangan agribisnis yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Hal ini akan bisa diwujudkan dengan lebih dahulu mencipatakan sumberdaya manusia yang berkualitas, sehingga kesinambungan dan ketangguhan petani dalam pembangunan pertanian bukan saja diukur dari kemampuan petani dalam memanage usahannya sendiri, tetapi juga ketangguhan dan kemampuan petani dalam mengelola sumberdaya alam secara rasional dan efesien,berpengetahuan, terampil, cakap dalam membaca peluang pasar dan mampu menyasuaikan diri terhadap perubahan dunia khususnya perubahan dalam pembangunan pertania. Untuk itu diperlukan penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang baik, melalui kelembagaan, ketenagaan yang kompeten, mekanisme dan tata kerja yang jelas termasuk supervise, monitoring, dan evaluasi yang efektif serta pembiayaan yang memadai. Hadirnya UU NO.16 tahun 1996 tentang penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) sebagai wujud revitalisasi penyuluhan pertanian, telah mengatur penyelenggaraan penyuluhan yang baik. Untuk implementasi UU SP3K tersebut mengehendaki kearifan lokal dari otonomi daerah. Di harapkan kedepan peran penyuluhan pertanian dapat ditempatkan pada posisi yang trategis di mana kelembagaan penyuluhan pertanian berada dan dapat berhubungan langsung dengan Bupati, sehingga penyelenggaraan penyuluhan pertanian betul-betul terakomodir dan bisa berjalan efektif dan efisien.

Dengan mengambil contoh upaya peningkatan produktivitas tanaman padi yang memiliki peluang yang besar untuk ditingkatkan melalui pergantian varietas dengan varietas unggul baru, penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu dan memasyarakatkan pengembangan tanaman padi hibrida, maka peran penyuluh pertanian yang handal menjadi sangat penting agar peluang-peluang tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga kebutuhan beras dapat sipenuhi dari produksi daerah sendiri dan tidak mengimpor lagi. Upaya ini dapat maksimal jika disinergiskan dengan mentalitas petani sebagai pelaku usahatani padi, karena semangat usaha petani cenderung menurun bila dihadapkan pada nilai jual produk yang belum menguntungkan. Di sinilah pentingnya penyuluhan pertanian untuk membangun dan menghasilkan SDM masyarakat pertanian yang berkualitas.
 

Rumah Pangan Lestari (RPL)

Ketersediaan jenis pangan dan rempah-rempah yang beraneka ragam terbantang dari wilayah Sabang sampau Marauke. Berbagai jenis tanaman pangan seperti padi-padian-umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur, buah dan pangan dari hewani banyak kita jumpai. Demikian pula berbagai jenis tanaman rempah dan obat - obatan dapat tumbuh berkembang dengan mudah diwilayah kita ini. Namun demikian realisasi konsumsi masyarakat masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Oleh karena iu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan gizi masyarakat harus diawali dari pemanfaatan sumberdaya yang tersedia maupun yang dapat disediakan dilingkungannya. Upaya tersebut ialah memanfaatkan pekarangan yang dikelola oleh keluarga.

Lahan pekarangan memiliki fungsi multiguna, karena dari lahan yang realtif sempit ini, bisa menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah, bahan tanaman rempah dan obat, bahan kerajinan tangan, serta bahan pangan hewani yang berasal dari unggas, ternak kecil maupun ikan. Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Kementerian Pertanian melihat potensi lahan pekarangan ini sebagai salah satu pilar yang dapat diupayakan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, baik bagi rumah tangga di pedesaan maupun diperkotaan. Ke depan diharapkan melalui inisiatif ini akan semakin berkembang upaya-upaya kreatif di tengah masyarakat dalam pemanfaatan lahan dan ruang yang ada di sekitar lingkungan lahan petani.

Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternative untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. Dalam masyarakat pedesaan, pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman kebutuhan keluarga sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan masih berkembang hingga sekarang meski dijumpai berbagai pergeseran. Komitmen pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “ Model Kawasan Rumah Pangan Lestari “ yang dibangun dari rumah pangan Lestari (RPL) dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tujuan pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) ini yaitu : a. meningkatkan ketrampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan maupun di pedesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos; b. memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga serta masyarakat secara lestari dalam satu kawasan; c. mengembangkan kegitan ekonomi produksi keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.

Sasaran yang diingin dicapai dari model MKRPL ini adalah berkembangnya kemampuan keluarga dan masyarakat secara ekoomi dan social, dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang mandiri dan sejehtera. Untuk melestarikan KRPL, para petugas lapangan setempat dan ketua kelompok agar sejak awal dilihat secara aktif mulai perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Diharapkan keterlibatan ini akan memudahkan proses keberlanjutan dan kemandiriannya.

Untuk menjamin keberlanjutan usaha pemanfaatan pekarangan, maka ketersediaan bibit menjadi faktor yang menentukan keberhasilan. Oleh karena itu perlu dibangun Kebun Bibit Desa (KBD) dan dikelola secara baik di setiap KRPL. Keberlanjutan pengembangan KRPL dapat diwujudkan melalui pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk system integrasi tanaman ternak dan model diversifikasi yang tepat sehingga dapat memenuhi pola pangan harapan dan memberikan kontribusi pendapatan keluarga. Kawasan Rumah Pangan Lestari harus dimulai dari rumah tangga dapat menjadi cikal bakal ketahanan pangan. Ketahanan pangan harus disikapi dari awal untuk memanfaatkan halaman walaupun dengan area yang sempit.

Lahan pekarangan memiliki fungsi guna, karena dari bahan yang relative sempit ini, bisa menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah, bahan tanaman obat, bahan kerajinan tangan, serta bahan pangan hewani yang berasal dari unggas. Manfaat yang yang diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain dapat menghemat pengeluaran, memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, dan juga dapat memberikan tambahan pendapatan keluarga.

Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang suka mengkonsumsi semua jenis makanan, pada hal tidak semua jenis makanan baik untuk dikonsumsi. Justru dengan mengkonsumsi makanan dari alamlah yang membuat kita terbebas dari berbagai macam penyakit, dengan mencegah datangnya penyakit dpredisikan umur manusia bisa lebih lama. Tenyata penyebab kematian terbesar disebabkan oleh penyakit darah tinggi yang berujung pada stroke dan kemudian menyebabkan kematian karena penyakit ini begitu ganas. Penyakit kolesterol berlebih juga disebabkan karena pola makan yang tidak sehat, jadi mulai sejak dini kita anjurkan mengkonsumsi makanan yang sehat dengan pula makanan yang seimbang dan tidak mengurangi nilai gizinya.

Kandungan zat gizi yang terdapat di dalam sayuran dan buah dapat dicirikan yaitu : a. Karbihidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, zat ini berfungsi untuk aktivitas otak, pembentukan sel darah merah dan system saraf, serta membantu dalam metabolisme protein dan lemak. Karbohidrat yang terdapat pada sayur dan buah umumnya berupa pati dan selulosa. Beberapa jenis sayur dan buah yang banyak mengandung pati dan selulosa yaitu pisang, mangga, labu kuning dan kentang; 2. Lemak merupakan sumber energi bagi tubuh. Lemak adalah senyawa kimia yang dalam struktur molekulnya mengandung gugus asam lemak. Kandungan lemak pada sayur dan buah pada umumnya sedikit misalnya terdapat pada alpukat, buncis dan kacang panjang; 3. Protein, berfungsi sebagai bahan dasar pembentukan sel-sel dan jaringan tubuh dan selain itu, protein juga berperan dalam proses pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Sayuran yang mengandung protein adalah berasal dari biji-bijian, seperti kacang panjang buncis dan kecambah; 4. Vitamin, adalah zat-zat oragnik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil. Di dalam tubuh, vitamin berperan sebagai zat pengatur; 5. Mineral, memegang peranan penting dalam memelihara fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Di samping itu juga mineral juga berperan sebagai katalis dan kofaktor aktivitas berbagai enzim dalam setiap tahap metabolism. Mineral digolongkan ke dalam makro dan mineral mikro. Mineral makro, mineral yang dibutuhkan dalam jumlah besar (lebih dari 100 mg/hari), sedangkan mineral mikro (kurang dari 15 mg/hari); 6. Air, sayur dan buah merupakan bahan pangan yang kandungan airnya cukup tinggi. Hal ini membuat sayur dan buah membuat efek rasa segar ketika dikonsumsi. Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut air dan mineral. Selain itu, air juga berfungsi sebagai katalisator, pelumas, fasilitator pertumbuhan, pengatur suhu dan peredam benturan. Kandungan air yang tinggi menyebabkan sayur dan buah mudah mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan air merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme menyebabkan pembusukan.

Berdasarkan kandungan gizi yang terdapat pada sayur dan buah terdapat banyak vitamin apalagi jika dipadukan dengan kacang-kacangan dan biji-bijian. Tugas kita hanya memadukan makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh sehingga bisa mendapatkan tubuh yang sehat diharapkan dapat menjalankan tugas dengan baik dan mendapat umur panjang, sayangi kesehatan tubuh kita sejak dini, mencegah lebih baik dari mengobati  
   

Peranan Penyuluh Pertanian Dalam Penyusunan Rencana Usaha Bersama (RUB)

Masalah kemiskinan dan pengangguran di pedesaan masih menjadi masalah pokok nasional dan focus utama perhatian pemerintan. Program pemberdayaan masyarakat seperti program Pengembangan Agribisnis Perdesaan (PUAP), Program pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP FEATI) dan program-program pemberdayaan masyarakat tani lainnya dirancang untuk penumbuhan dan pengembangan kegiatan agribisnis di perdesaan dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan program PUAP atau P3TIP/FEATI di fokuskan pada pendampingan pemberdayaan petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk pengembangan usaha agribisnis.

Dalam pendampingan pemberdayaan Gapoktan/poktan tersebut difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang ada di wilayah, yang bertindak sebagai penyuluh pendamping. Penyuluh pendamping dalam hal berfungsi meningkatkan kemampuan gapoktan/poktan mengelola usaha agribisnisnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

Salah satu tugas penyuluh pendamping dalam memfaslitasi gapoktan/poktan adalah pendampingan dalam penyusunan Rencana Usaha Bersama (RUB)/Rencana Usaha Agribisnis Berkelompok) untuk pengembangan usaha agribisnis berkelompok di perdesaan berdasrkan kelayakan usaha produksi petani dan potensi desa serta peluang pasar.

Pendampingan penyusunan RUB bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelaku utama/poktan/gapoktan dalam usaha menyusun rencana agribisnis secara bersama/berkelompok untuk memenuhi kebutuhan pasar.

RUB merupakan rencana usaha gapoktan/poktan mengenai kegiatan bersama antar anggota yang disusun secara sistematis dan tertulis, yang penyusunannya harus berdasarkan kesepakatan seluruh anggota gapoktan/poktan, sehingga dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara bersama.

Maksud penyusunan RUB adalah agar gapoktan/poktan mendapat informasi yang benar dan dapat mengambil keputusan yang tepat dalam pelaksanaan usaha agribisnisnya, sehingga usahanya dapat dilaksnakan sesuai rencana dan dapat mengetahui apabila terjadi hal-hal menyimpang dan menyebankan tidak tercapainya sasaran.

Sedangkan tujuan penyusunan RUB, adalah diperolehnya suatu rencana usaha berkelompok yang realistic di susun secara partisipatif sehingga para pelaku dapat memperkirakan berapa biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha berkelompok tersebut serta pendapatan yang mungkin diperoleh dalam satu siklus usaha.

Kegunaan RUB, sebagai pedoman dalam melaksanakan, mengendalikan dan mengawasi kegiatan usaha yang dilaksanakan, juga menjamin tumbuhnya rasa memiliki dan tanggung jawab diantara sesame anggota gapoktan/poktan dalam merencanakan usaha tersebut. Selain itu sebagai alat/jaminan untuk mendapat tambahan modal usaha dari sumber modal (seperti pada program PUAP, RUB merupakan salah satu persyaratan untuk mengajukan penyaluran dana BLM-PUAP). Peran penyuluh pendamping dalam penyusunan RUB dan Program PUAP.

RUB disusun oleh gapoktan yang didampingi dan sifasilitasi oleh panyuluh pendamping berdasarkan hasil identifikasi potensi usaha agribisnis di desa PUAP Penyuluh pendamping menyediakan data dan informasi potensi usaha agribisnis di desa, membimbing dan memfasilitasi gapoktan dalam penyusunan serta terus mengikuti rapat anggota dalam penetapan RUB sampai kepada pengusulan kepada Pengelia Mitra Tani (PMT) untuk diverifikasi dan disetujui oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota. Penyuluh pendamping dalam mengidentivikasi potensi desa melakukan persiapan pengumpulan data primer dan sekunder (agriklimat, teknis, social dan ekonomis) serta melaksanakan identifikasi meliputi kegiatan produksi/budidaya (industri rumah tangga, pemasaran/bakulan) serta usaha lainnya yang berbasis pertanian.

Selanjutnya penyuluh pendamping mengolah dan menganalisis data-data potensi usaha agribisnis perdesaan dan masalah-masalah yang ada. Hasil identifikasi inilah yang digunakan oleh gapoktan untuk menyusun RUB sesuai dengan formulir RUB-PUAP.

Peranan penyuluh dalam menyusun RUB pada Program FEATI/P3TIP. Proses penyusunan pada dasarnya sama dengan program PUAP, RUB disusun oleh Gapoktan/Poktan atau kelompok belajar FMA yang difasilitasi oleh Tim Penyuluh Lapangan/Penyuluh Pendamping, yang diatur dengan kajian agribisnis perdesaan (Identifikasi dan analisis kebutuhan pasar, identifikasi dan analisis sumber daya di desa secara partisipatif dan analisis skala ekonomi produk/komoditi sesuai permintaan pasar) dan masalah-masalah yang dihadapi dalam pengembangan usaha bersama.

Selanjutnya poktan melakukan pengumpulan data dan informasi bahan RUB yaitu data-data Kelompok, jenis usaha yang akan dikembangkan, biaya (biaya tetap dan tidak tetap), modal yang diperlukan, perkiraan pendapatan yang diperoleh, perhitungan harga pokok produksi (HPP) dan harga jual produk (HJP), perhitungan prakiraan laba-rugi.

Setelah semua data dan informasi RUB, yang akan digunakan untuk mengakses modal usaha kesumber-sumber penyedia sarana produksi ataupun permodalan dan pemasaran dalam pengembangan usaha agribisnisnya.  
 

Memproduksi Media Informasi Penyuluh Pertanian

Pendampingan teknologi tidak cukup hanya dilakukan penyuluh pertanian melalui kunjungan pertemuan kelompok tani dengan penyampaian materi secara lisan, tetapi juga diperlukan dengan adanya dukungan materi teknologi yang akan berguna sebagai dokumentasi bagi petani.

Dalam menjalankan tugas fungsi penyuluh pertanian dituntut mampu membuat media informasi pertanian sebagaimana tuntutan Peraturan Manteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.: per/02/Menpan/2/2008 tentang jabatan fungsional Penyuluh pertanian dan angka kreditnya.

 Beberapa unsur kegiatan yang dapat dilakukan oleh Penyuluh Pertanian dalam menyampaikan materi informasi pertanian sebagai mana tuntutan Peraturan Manteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.: per/02/Menpan/2/2008 meliputi pembuatan materi informasi pertanian yang dikemas dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian berupa leaflet/liptan, folder, peta singkap, poster kartu kilat dan brosur serta tuntutan kemampuan penyuluh pertanian untuk menulis karya tulis ilmiah melalui media masa yang tidak lain adalah tuntutan penulisan ilmiah popular yang berisikan informasi tentang pengetahuan teknologi dan penulisan yang memberikan motivasi kepada petani dan masyarakat pertanian pemerhati di bidang pertanian.

Menjadi penyuluh pertanian sekarang ini bukan hanya mampu melakukan pendampingan teknologi tetapi juga harus mau dan mampu berkarya berkolaborasi dengan ilmu pengetahuan lainnya yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan tulis menulis diantarannya karya tulis ilmiah popular. Pernah diterbitkan sebuah acuan pedoman bagi penyuluh pertanian dalam berkarya dibidang media informasi penyuluh pertanian “ Pedoman Teknis Penulisan Beberapa Bahan Bacaan Penyuluhan Pertanian” yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian pada tahun 1982 dan sekarang ini diganti nama Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian. Meskipun acuan pedoman pembuatan media informasi pertanian relatif sudah cukup lama masa beredarnya namun acuan aturan tersebutmasih layak untuk diadopsi guna mendukung pembuatan penulisan materi informasi pertanian dalam bentuk media informasi penyuluhan pertanian.

Beberapa acuan pedoman yang dapat digunakan dalam membuat media informasi penyuluhan pertanian diantarannya adalah : Leaflet/liptan adalah jenis salah satu media informasi penyuluhan pertanian dalam bentuk lembaran informasi pertanian yang disajikan dalam selembar kertas berisikan uraian materi informasi pertanian, penampilan lembar leaflet/liptan tanpa ada pelipatan kertas. Pada bagian depan lembar leaflet berisikan judul tulisan dan uraian tulisan pembuka materi informasi yang akan disampaikan dan pada bagian lembar belakang laflet berisikan muatan isi materi lanjutan dari lembar depan leaflet. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui leaflet/liptan harus singkat, jelas, dan padat berupa pokok-pokok uraian yang penting saja dengan menggunakan kalimat sederhana.

Untuk menarik minat sasaran pembaca leaflet/liptan sangat dianjurkan pembuatannya dilengkapi dengan pemberian gambar sederhana dan terfokus yang akan memperjelas materi tulisan. Leaflet/liptan dapat disampaikan kepada petani saat kegiatan kursus tani, demontrasi, karya wisata dan sebagainya.

Folder adalah media informasi penyuluh pertanian disajikan secara lembaran info pertanian, dengan bentuk lembaran yang dilipat-lipat secara teratur mulai dari dua lipatan kertas sampai pada belasan lipatan kertas, tergantung dari lembar kertas yang digunakan. Umumnya folder digunakan untuk penyuluh pertanian terdiri dari 3 lipatan kertas, dengan penyajian uraian materi yang berkesinambungan dari masing-masing lipatan kertas. Materi informasi pertanian yang disampaikan melalui folder baru berupa tulisan yang berisikan uraian singkat, sistematis tentang suatu masalah, penulisan folder pada prinsipnya tidak berbeda dengan penulisan leaflet/liptan yang agak berbeda adalah cara penyajian pokok-pokok pembahasan pada folder disajikan lebih detail dan sistimatis dibandingkan leaflet/liptan dengan penyajian disesuaikan dengan kebutuhan.

Penyajian ilustrasi gambar pada folder sangat dianjurkan dengan gambar sederhana dan diberi warna. Tidak bedannya dengan leaflet/liptan penyampaian folder kepada sasaran dapat dilakukan pada saat kegiatan kursus tani, demontrasi, karya wisata dan dapat juga digunakan sebagai bahan diskusi kelompok pada saat kegiatan pertemuan kelompok.

Brosur adalah satu media informasi penyuluhan pertanian disampaikan dalam bentuk kemasan buku tipis dengan jumlah lembaran maksimal 60 halaman, berisikan uraian singkat, pada dan merupakan pedoman praktis yang dijadikan acuan petunjuk suatu kegiatan. Tulisan pada brosur harus sistematis dan berisikan uraian yang berguna, jelas, singkat dan padat, penyajian brosur harus menarik dilengkapi dengan foto atau gambar. Brosur selain dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi pembaca juga dapat digunakan sebagai sumber bacaan pada kursus tani dan pertemuan kelompok tani.

Majalah adalah media cetak yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk penulisan materi penyuluhan pertanian dikemas dalam bentuk tulisan feature. Isi materi informasi pertanian yang disampaikan melalui majalah adalah tulisan feature yang harus selesai informasinya dapat dipahami dengan muda oleh sasaranya yaitu pembaca khususnya masyarakat umum. Majalah biasannyaterbit secara periodic bulanan maupun triwulan.

Buletin adalah media massa cetak yang satu ini mempunyai sifat penulisan yang tidak jauh beda dengan majalah, perbedaanya dari bulletin dengan majalah ada sasaran yang akan digarap. Umumnya bulletin akan menggarap sasaran suatu kelompok masyarakat yang tergabung dalam satu unit organisasi. Isi materi informasi yang disampaikan dalam bulletin harus terkait sesuai kebutuhan materi yang diperlukan anggota unit organisasi. Penyajian informasi pada bulletin dapat juga didukung dengan adanya foto.

Surat Kabar adalah media massa cetak yang terbit harian, informasi penyuluhan pertanian yang disampaikan dalam surat kabar berupa motivasi anjuran dan mengingatkan kembali tentang suatu peristiwa informasi disampaikan adalah yang baru bagi pembacannya. Penyampaian informasi penyuluhan pertanian yang dikemas dalam media cetak majalah, bulletin dan surat kabar informasi yang dikabarkan harus dikemas dalam bentuk tulisan feature pengetahuan atau feature perjalanan yang merupakan bentuk tulisan penyuluhan pertanian dan biasa dikenal sebagai penulisan ilmiah popular.
   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Kisah Sukses KRPL Desa Soahuku (KOMIK)

Dinamika OPT di Maluku

No images

Highlight

banner9
banner7
banner

Digital Online

Statistik

Anggota : 48
Konten : 266
Jumlah Kunjungan Konten : 222158

Helena Tarumaselly